Saturday, 9 September 2017

bahan kimia dalam rumah tangga

bahan kimia dalam rumah tangga

Assalamu’alaikum Wr Wb
Kali ini saya akan posting tentang bahan kimia dalam rumah tangga. Berikut penjelasannya.
  
Kehidupan masyarakat modern tidak bisa lepas dari beragam bahan kimia, seperti detergen, sabun mandi, sampo, pembasmi serangga. Coba kita perhatikan kegiatan ibu kita di rumah, mungkin diawali dengan bangun pagi lalu mandi menggunakan sabun mandi dan gosok gigi dengan pasta gigi atau sambil mencuci rambut dengan sampo. Lalu mencuci pakaian dengan detergen dan mencuci piring dengan sabun cuci piring. Tak lupa menggunakan pewangi dan pelembut untuk pakaian. Rumah kita bersihkan dengan pembersih lantai dan pembersih kaca. Bahkan untuk kenyamanan tidur, kita menggunakan beragam bahan kimia untuk mengusir nyamuk dan serangga lainnya.

1. Bahan pembersih
Biasanya kotoran yang melekat pada kulit, pakaian, atau benda lain berupa minyak, lemak, keringat, tanah, dan sebagainya. Sifat dari zat pengotor pada umumnya adalah sukar larut dalam air, sehingga diperlukan zat lain untuk membantu melarutkannya, di sinilah fungsi kerja sabun atau detergen, yaitu untuk mernbantu melarutkannya.
Sabun dapat membersihkan kotoran karena sabun mengikat kotoran dalam bentuk emulsi. Emulsi terbentuk karena sabun memiiiki gugus RCOO- yang mampu mengikat kotoran pada ujung nonpolar dan ujung COO- yang bersifat polar larut dalam air. Kotoran yang terikat oleh sabun dan sabun yang larut dalam air menyebabkan kotoran tertarik dan lepas dari tempatnya dan larut terbawa air dan sabun. Kotoran yang berbentuk emulsi dengan sabun akan dibuang saat pembilasan. Suatu kelemahan sabun adalah tidak dapat larut dalam air sadah (air yang mengandung ion Ca2+ atau Mg2+), karena akan membentuk garam yang tidak larut dalam air.
Detergen dapat mengemulsi kotoran seperti sabun tetapi tidak mengendap bersama ion logam dalam air sadah. Keuntungan lain penggunaan detergen adalah kemampuan pembersihnya jauh lebih cepat dibanding dengan sabun, sehingga akan menghemat waktu dan tenaga. Penggunaan detergen yang terlampau banyak akan mengganggu terhadap air karena tidak dapat diuraikan oleh organisme air. Di banyak negara industri. sungai dan danau permukaannya telah tertutup busa detergen, sehingga sungai dan danau tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya dan hal itu sangat memprihatinkan.

2. Bahan pemutih
Salah satu bentuk senyawa klor yang digunakan sebagai pemutih adalah NaClO. NaClO memiliki kemampuan untuk mengikat susu atau zat yang biasanya menjadi pengotor. Penggunaan pemutih akan bekerja lebih efektif jika dalam keadaan suhu yang lebih tinggi, karena akan meningkatkan jumlah tumbukan sehingga reaksi lebih banyak dan lebih cepat terjadi. Namun hal yang harus diperhatikan adalah jangan pernah mencampur bermacam zat pembersih, karena hal itu akan menghasilkan reaksi samping yang menghasilkan gas-gas yang beracun seperti gas klor.
Jika kita menghirup gas klor maka kita akan mengalami iritasi pada alat-alat pernapasan kita bahkan jika dalam bentuk cairan maka kulit kita akan terbakar. Beruntung keberadaan gas ini dapat tendeteksi dengan cepat karena warna dan baunya ketika baru berjumlah 3,5 bpj. Sebab jika sudah dalam jumlah 1000 bpj maka akan terjadi akibat yang fatal setelah beberapa kali bernapas saja. Untuk menghindari terbentuknya gas beracun ini hindarkan zat pemutih terkena sinar matahari. Untuk rnenggunakan zat pemutih ini sebaiknya baca peringatan yang terdapat pada label zat tarsebut.

3. Pembasmi serangga
Bahan kimia pembunuh serangga disebut dengan insektisida. Bahan insektisida, antara lain propoksur, diklorovinil dimetil fosfat, dan siazinon. Insektisida tersebut sering kita gunakan untuk pembasmi kecoa, lalat, nyamuk, laba-laba, semut, rayap, dan beragam serangga lainnya.
Pembasmi serangga yang kita gunakan rnemiliki beragam bentuk, bisa berupa cairan yang disemprot ataupun yang dibakar. Bahkan saat ini terdapat dalam bentuk obat nyamuk elektrik. Berdasarkan bahan pembuatnya insektisida dapat digolongkan ke dalam insektisida organoklor, insektisida organofosfor dan insektisida karbamat. Insektisida organoklor bila masuk dalam tubuh manusia akan larut dalam selaput lemak yang rnengelilingi serat saraf. Akibatnya dapat menyebabkan penyakit tremor dan sawan. Senyawa organofosfor dan karbamat biasanya cepat terurai (1-10 minggu) menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Senyawa organoklor lebih stabil di lingkungan. Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa organoklor menjadi separuhnya yaitu 2-4 tahun.
Karbamat adalah insektisida yang dapat terurai dengan mudah dan tidak terakumulasi dalam lemak. Karbamat kurang toksik (bersifat racun) tehadap mamalia. Contoh: karbofuran (furadan karbonil).
Insektisida sebenarnya adalah racun, sehingga saat digunakan bukan hanya serangga yang terpengaruh tetapi juga kita. Penggunaan insektisida memberikan efek samping berupa kekebalan pada serangga yang tidak terbunuh saat dikenai insektisida. Akibatnya, generasi serangga berikutnya rnenjadi kebal terhadap racun tersebut dan berkernbang lebih pesat.

4. Zat pewangi
Pewangi merupakan bahan kimia yang biasa ditambahkan untuk memperoleh bau yang wangi (harum). Pewangi dapat dikelompokkan menjadi pewangi ruangan, sabun dan detergen, minyak rambut, kosmetik atau parfum, dan pestisida semprot (cair).
Bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam pewangi ruangan, misalnya propana, butana, ammonia, formaldehid, dan fenol. Bahan-bahan kimia tersebut dapat memberikan efek pada tubuh manusia, misalnya iritasi mata, selaput lendir hidung, tenggorokan, kulit, mual-mual, pusing, hilang ingatan, tumor atau kanker, asma, kerusakan hati, dan paru-paru.

Sumber :
WAJAR Penunjang Program Wajib Belajar “IPA Terpadu” kelas VIII. Penerbit Graha Pustaka.

Sekian postingan saya kali ini mengenai bahan kimia dalam rumah tangga. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

No comments:
Write komentar

Silahkan berkomentar sesuai artikel